Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 Oktober 2012
"Tangisan" Nabi Muhammad saw yg mengguncang Arsy
Dikisahkan, bahawasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka'bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: "Ya Karim! Ya Karim!" Rasulullah s.a.w. menirunya membaca "Ya Karim! Ya Karim!"
Rabu, 29 Agustus 2012
Semua Hal Tentang Ibu
Ane mengharapkan, setelah agan baca thread ini, kita semua bisa lebih berbakti sama orang tua kita. Beberapa hal yang dilakukan seorang Ibu itu adalah sangat penting, namun slalu diabaikan, tanpa disadarkan atau bahkan terlupakan.
Saat Ibu menelpon, percayalah beliau slalu ingin tau hanya sedikit saja apa yang terjadi padamu. Janganlah kamu merasa risih. Saat Ibu terdiam, percayalah kamu adalah orang yang slalu ingin beliau dengar.
Saat Ibu tidak pernah membantah, percayalah kamu adalah cintanya. Saat Ibu berkata “Ibu baik-baik saja”, percayalah ada rahasia yang tersimpan didalam hatinya, bantulah beliau. Saat kamu merebahkan kepala ke bahunya, percayalah beliau adalah sebuah sarang hangatyang mampu menghilangkan kedinginan.
Saat kamu terjatuh, percayalah kedua tangannya akan menyambutmu tak perduli pada badai sekalipun. Saat kamu lapar, haus, percayalah orang yang pertama sibuk di dapur menyiapkan sgala sesuatu untukmu adalah Ibu.
Saat Ibu bilang “Rindu sekali denganmu Nak”, percayalah,langit pun tak akan mampu menjadi batas rindunya kepadamu. Saat Ibu menasehati kamu, percayalah itu kata mutiara yang tak akan pernah didapatkan oleh orang lain selain kamu. Saat Ibu memarahi kamu, percayalah semua itu untuk mendidik kamu supaya kamu bisa menjadi diri apa yang kamu inginkan.
Saat Ibu meminta kamu menemaninya, percayalah kamu adalah orang yang mampu membuat beliau merasa nyaman kemanapun berlangkah. Janganlah malu untuk menemaninya kemanapun.
Saat Ibu berkata “tidak” untuk menunaikan sesuatu permintaan dari kamu, percayalah pada ahirnya akan kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan hingga waktunya nanti. Saat kamu tersungkur akan sebuah batu, percayalah Ibumu yang akan menantang musim agar bisa meraih dan memelukmu kembali. Dan biru langit tak akan mampu menjadi pembatas sebagai tingginya rasa hormat untuknya serta pada biru laut pun tak akan mampu menampung jutaan pujian yang terharuskan untuk Ibumu.
Kelak, tak ada paling rindu selain dirinya dan tak ada paling luka selain airmatanya.
Ibu...
Saat Ibu menelpon, percayalah beliau slalu ingin tau hanya sedikit saja apa yang terjadi padamu. Janganlah kamu merasa risih. Saat Ibu terdiam, percayalah kamu adalah orang yang slalu ingin beliau dengar.
Saat Ibu tidak pernah membantah, percayalah kamu adalah cintanya. Saat Ibu berkata “Ibu baik-baik saja”, percayalah ada rahasia yang tersimpan didalam hatinya, bantulah beliau. Saat kamu merebahkan kepala ke bahunya, percayalah beliau adalah sebuah sarang hangatyang mampu menghilangkan kedinginan.
Saat kamu terjatuh, percayalah kedua tangannya akan menyambutmu tak perduli pada badai sekalipun. Saat kamu lapar, haus, percayalah orang yang pertama sibuk di dapur menyiapkan sgala sesuatu untukmu adalah Ibu.
Saat Ibu bilang “Rindu sekali denganmu Nak”, percayalah,langit pun tak akan mampu menjadi batas rindunya kepadamu. Saat Ibu menasehati kamu, percayalah itu kata mutiara yang tak akan pernah didapatkan oleh orang lain selain kamu. Saat Ibu memarahi kamu, percayalah semua itu untuk mendidik kamu supaya kamu bisa menjadi diri apa yang kamu inginkan.
Saat Ibu meminta kamu menemaninya, percayalah kamu adalah orang yang mampu membuat beliau merasa nyaman kemanapun berlangkah. Janganlah malu untuk menemaninya kemanapun.
Saat Ibu berkata “tidak” untuk menunaikan sesuatu permintaan dari kamu, percayalah pada ahirnya akan kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan hingga waktunya nanti. Saat kamu tersungkur akan sebuah batu, percayalah Ibumu yang akan menantang musim agar bisa meraih dan memelukmu kembali. Dan biru langit tak akan mampu menjadi pembatas sebagai tingginya rasa hormat untuknya serta pada biru laut pun tak akan mampu menampung jutaan pujian yang terharuskan untuk Ibumu.
Kelak, tak ada paling rindu selain dirinya dan tak ada paling luka selain airmatanya.
Ibu...
»» Alasan Mengapa IBLIS berani mendatangi Nabi agung Muhammad SAW ««
Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”
Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”
Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.
Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin…”
Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
“Siapa yang memaksamu?”
Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”
“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”
Orang Yang Dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
“Siapa selanjutnya?”
“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
“lalu siapa lagi?”
“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”
“Lalu siapa lagi?”
“Orang yang selalu bersuci.”
“Siapa lagi?”
“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.”
“Apa tanda kesabarannya?”
“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.”
” Selanjutnya apa?”
“Orang kaya yang bersyukur.”
“Apa tanda kesyukurannya?”
“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”
“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”
“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”
“Umar bin Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”
“Usman bin Affan?”
“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”
“Ali bin Abi Thalib?”
“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)
Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis
“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?”
“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”
“Kenapa?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”
“Jika seorang umatku berpuasa?”
“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”
“Jika ia berhaji?”
“Aku seperti orang gila.”
“Jika ia membaca al-Quran?”
“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.”
“Jika ia bersedekah?”
“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”
“Mengapa bisa begitu?”
“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. Yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”
“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”
“Suara kuda perang di jalan Allah.”
“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”
“Taubat orang yang bertaubat.”
“Apa yang dapat membakar hatimu?”
“Istighfar di waktu siang dan malam.”
“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”
“Sedekah yang diam – diam.”
“Apa yang dapat menusuk matamu?”
“Shalat fajar.”
“Apa yang dapat memukul kepalamu?”
“Shalat berjamaah.”
“Apa yang paling mengganggumu?”
“Majelis para ulama.”
“Bagaimana cara makanmu?”
“Dengan tangan kiri dan jariku.”
“Dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?”
“Di bawah kuku manusia.”
Manusia Yang Menjadi Teman Iblis
Nabi lalu bertanya : “Siapa temanmu wahai Iblis?”
“Pemakan riba.”
“Siapa sahabatmu?”
“Pezina.”
“Siapa teman tidurmu?”
“Pemabuk.”
“Siapa tamumu?”
“Pencuri.”
“Siapa utusanmu?”
“Tukang sihir.”
“Apa yang membuatmu gembira?”
“Bersumpah dengan cerai.”
“Siapa kekasihmu?”
“Orang yang meninggalkan shalat jumaat”
“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?”
“Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.”
Rabu, 15 Agustus 2012
Kisah Bijak Para Sufi: Anak-anak yang Serakah
Pada
zaman dahulu, ada seorang petani yang suka bekerja keras dan murah hati, yang
memiliki beberapa anak laki-laki yang malas dan serakah.
Menjelang ajalnya, petani itu mengatakan kepada anak-anaknya
bahwa mereka akan menemukan harta karun kalau mereka mau menggali di suatu
ladang tertentu.
Segera setelah orang tua itu meninggal, anak-anaknya bergegas ke
ladang tersebut, menggalinya dari satu sisi ke sisi lain, dengan keputusasaan
dan konsentrasi yang semakin meningkat. Namun, tak kunjung mereka temukan emas
di tempat yang ayahnya sebut itu.
Mereka sama sekali tidak menemukan emas. Menyadari bahwa karena
kemurahan hatinya, ayah mereka pasti telah membagi-bagkan emasnya semasa
hidupnya, mereka pun berhenti mencari.
Akhirnya, terpikir oleh mereka bahwa karena ladang itu sudah
terlanjur digarap, tak ada salahnya bila ditanami benih. Mereka pun menanam
gandum, yang menghasilkan panen berlimpah-limpah. Mereka menjualnya, dan pada
tahun itu juga hidup mereka makmur.
Setelah musim panen lewat, mereka berpikir-pikir kembali tentang
kemungkinan bahwa harta karun itu terluput dari penggalian mereka. Mereka pun
menggali lagi ladang mereka, tetapi hasilnya sama saja.
Setelah bertahun-tahun lamanya, mereka menjadi terbiasa bekerja
keras dan mengenali musim, sesuatu yang belum pernah mereka pahami sebelumnya.
Sekarang, mereka mengerti cara sang ayah melatih mereka, dan mereka pun menjadi
petani yang jujur dan bahagia. Pada akhirnya, mereka memiliki cukup kekayaan
sehingga tak lagi risau perihal harta terpendam itu.
Cintailah orang tua kita
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yangsenang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senangmemanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran diketeduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohonapel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari iamendatangi pohon apel.
Wajahnya tampak sedih.
“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi.” jawab anaklelaki itu.“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kauboleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkanuang untuk membeli mainan kegemaranmu.”
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki takpernah datang lagi.
Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
“Ayo bermain-main denganku lagi.” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempattinggal. Maukah kau menolongku?”“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahanrantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapianak lelaki itu tak pernah kembali lagi.
Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
“Ayo bermain-main lagi denganku.” kata pohon apel.. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu.“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur danberlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku danmenggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar danbersenang-senanglah .”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datangmenemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”“Tak apa.. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.”Jawab anak lelaki itu.“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” Kata pohonapel.“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” jawab anak lelaki itu.“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” Katapohon apel itu sambil menitikkan air mata.“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” kata anak lelaki.“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelahsekian lama meninggalkanmu.”“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempatterbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datangketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.Tak peduli apapun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikanapa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasarpada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya padakita.
Langganan:
Postingan (Atom)
